Kamis, 01 Desember 2011

SUMPAH MUDA,YANG MENUA


SUMPAH MUDA,YANG MENUA
Berdirinya organisasi – organisasi pemuda yang bersifat kedaerahan memperlihatkan dan mendorong adanya kesadaran untuk bersatu, walaupun masih bertaraf kecil, semangat muda yang membara, berkobar antar pemuda membentuk keinginan bersatu membentuk persatuan yang bersifat nasional. Sebagai puncak semangat ini akhirnya tercetus Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928.

Putusan Kongres Pemuda Pemudi Indonesia
28 Oktober 1928
Kami putra dan putri Indonesia mengaku bertumpah darah satu,
Tanah Air Indonesia.
Kami putra dan putri Indonesia mengaku berbangsa satu, Bangsa Indonesia.
Kami putra dan putri Indonesia menjunjng tinggi bahasa persatuan,
Bahasa Indonesia.
Diatas merupakan sepenggal kata hasil keputusan dalam Kongres Sumpah Pemuda II, 28 Oktober 1928 mempunyai arti penting dalam perkembangan bangsa Indonesia. Semangat bersama yang dikumandangkan berhasil mengatasi perpecahan antar suku, golongan, budaya antar daerah di Indonesia. Perjuangan pemuda dalam Sumpah pemuda mempengaruhi perjuangan nasional dan kehidupan bangsa Indonesia sesudah mencapai kemerdekaan.
Nilai – nilai budaya tentang persatuan dan kesatuan yang di junjung menjadi titik awal persatuan antar daerah di Indonesia. Semangat nasionalisme yang tinggi menghantarkan Indonesia kedalam ranah perjuangan bersama antar pemuda, nilai gotong royong, toleransi , kesetiakawanan, rasa memiliki, rasa seperjuangan menjadi faktor pendorong yang utama. Apabila nilai – nilai tersebut betul bisa dilaksanakan bersama – sama maka kedamaian dan ketentaman akan terwujud di Indonesia tercinta ini. Semboyan “Bhinneka Tunggal Ika” yang sering kita kumandangkan akan benar – benar terwujud di Indonesia ini, dan mempersatukan kita semua.
Seiring berjalannya waktu semboyan yang dulu tercipta untuk mendorong semangat nasionalisme semangat kebangsaan terkikis dari mainset generasi penerus bangsa yang dapat diharapkan oleh para generasi tua sebagai penerus perjuangan untuk bangsa ini. Semangat yang muda telah menghilang seperti teplok yang meredup kehabisan minyak. Semangat muda yang menyala tak lagi kita lihat dalam benak dan kehidupan kita sekarang hanya cerita belaka yang kita dengar dulu.
Dalam Era sekarang ini dalam masa yang serba Modern dan Digital melunturkan semangat pemuda – pemuda Era28, solidaritas yang tak begitu nampak meunjukan turunnya semangat kebangsaan. Life style yang modern membuat orang melupakan semangat nasionalisme yang telah terbangun. Ingat pesan dari Bung Karno “Jas Merah” jangan melupakan sejarah sekarang telah berubah fungsi dilupakan tanpa ada keinginan untuk menerapkan dalam kehidupanya. Slogan yang selalu terucap dan tertulis luntur termakan jaman, hilang dalam keramaian muda – mudi dan ramainya kota dengan segala aktivitas kesibukanya.
Semakin tuanya jaman tidak menambah kedewasaan orang perseorangan malah menjadi menurunya semangat kedewasaan, muncul sikap tamak yang diajarkan oleh petinggi kita ajaran korupsi yang mendarah daging hingga kebangku sekolah dasar, seperti tabularasa yang menulis kebohongan diatas kertas kosong, pembudayaan yang membuat orang merasa biasa untuk berbohong menjadikan habit yang negatif bagi perkembangan negeri.
Iklim negatif di negeri ini mengurangi dan menghilangkan sikap muda yang berbudaya dan semangat kenegaraan  yang membudaya kejujuran. Nilai kejujuran yang dinilai dengan amplop dan cek semata sampai pada titik klimaks korupsi yang dilakukan oleh pejabat negeri. Sudah lupakah kita dengan pesan orang tua kita yang mengajarkan pentingnya kejujuran dalam kehidupan bermasyarakat. Faktor X ini yang menjadi beban berat untuk negeri, serta menambah deret panjang beban kehidupan di negeri ini. Anak – anak sekolah diajarkan solidaritas semu di bangku sekolah, solidaritas kepentingan yang hanya di ukur dengan ukuran 10 hingga 100 atau A hingga K nilai fiktif  yang didapat dalam dunia pendidikan kita. Budaya menyontek yang terjadi dalam kegiatan ulangan di sekolah yang semakin lama semakin parah hingga merambah pada ujian yang berstandar nasional.
Harusnya pendidikan kita lebih mengutamakan moral ketimbang angka dan budaya barat yang dipaksa masuk kedalam sistem pendidikan kita. Ditambah dengan maraknya aksi solidaritas semu antar pelajar yang saling mengadu ilmu dalam tawuran antar pelajar. Harusnya sumpah pemuda yang telah menua ini dibaca dan diresapi oleh generasi muda yang diharapkan dapat menjadi penerus bangsa Indonesia pada masa yang akan datang. Rasa persatuan, memiliki, dan menjujung tinggi harus kita pupuk mulai dari sekarang hingga masa – masa yang akan datang. Semangat Indonesia yang berkobar akan membimbing kita semua dalam ketentraman dan kebahagiaan dengan persatuan dan kesatuan antar generasi, daerah, suku bangsa dan agama. Semangat sumpah pemuda yang dikumandangkan oleh generasi 28 dapatnya kita lestarikan dan terapkan dalam kehidupan kebangsaan dan bernegara kedalam masyarakat sehingga Sumpah Pemuda yang dulu sebagai semangat pendorong persatuan negeri ini tidak luntur termakan oleh jaman dan waktu yang semakin lama semakin tua dan menua.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar